“Kesehatan fisik mahasiswa dan staf merupakan variabel pendukung utama dalam mencapai produktivitas akademik yang optimal dan berkelanjutan,” kata Kepala Biro Perencanaan dan Kerja Sama Undana, Yefri C. Adoe, S.E., M.A.P
KUPANG, MEDIASINTT.COM – Universitas Nusa Cendana (Undana) terus memperkuat komitmennya dalam menghadirkan inovasi kesehatan di lingkungan kampus dengan mulai menjajaki kerja sama terkait sosialisasi dan edukasi penggunaan teknologi pemurnian air minum kesehatan bagi sivitas akademika.
Hal ini ditandai dengan diterimanya audiensi dari manajemen Muammaz Putra oleh jajaran pimpinan Biro Perencanaan dan Kerja Sama Undana di Gedung ICT Centre, Rabu (4/3).
Pertemuan strategis tersebut dipimpin oleh Kepala Biro Perencanaan dan Kerja Sama Undana, Yefri C. Adoe, S.E., M.A.P., didampingi Sub Koordinator Kerja Sama, Happy Yandri Haning, S.Si. Agenda utama pertemuan ini adalah penjajakan kerja sama terkait sosialisasi dan edukasi penggunaan teknologi pemurnian air minum kesehatan bagi sivitas akademika.
Fokus utama dalam penjajakan ini adalah pengenalan Yusti Hydrogen Generator, sebuah perangkat botol portabel inovatif yang mampu mengubah air minum biasa menjadi air hidrogen alkali kaya antioksidan. Melalui metode elektrolisis, alat ini memisahkan molekul gas hidrogen untuk membantu percepatan pemulihan kesehatan, meningkatkan fungsi arteri, serta memperkuat daya tahan tubuh secara signifikan.
Kepala Biro Perencanaan dan Kerja Sama, Yefri C. Adoe, menyambut positif rencana edukasi teknologi kesehatan ini.
Menurutnya, kesehatan fisik mahasiswa dan staf merupakan variabel pendukung utama dalam mencapai produktivitas akademik yang optimal dan berkelanjutan.
Ketertarikan pihak Muammaz Putra untuk menyasar basis massa di Undana didasari oleh fenomena pergeseran gaya hidup sivitas akademika yang kian dinamis namun rentan terpapar risiko kesehatan dari air konsumsi harian. Ilham, praktisi kesehatan dari Muammaz Putra, menyoroti kontradiksi antara kesadaran membawa botol minum sendiri (tumbler) dengan rendahnya jaminan kualitas air yang dikonsumsi.
“Kami mengamati adanya tren positif di mana warga kampus Undana sangat antusias membawa tumbler pribadi sebagai bagian dari gaya hidup ramah lingkungan. Namun, banyak yang tidak menyadari bahwa air yang bersumber dari dispenser kantor atau depot isi ulang belum tentu memenuhi standar baku mutu kesehatan jangka panjang jika tidak diolah kembali secara molekuler,” jelas Ilham.
Ia menambahkan bahwa sosialisasi ini bertujuan mengedukasi bahwa air hidrogen alkali adalah solusi atas keraguan tersebut. “Teknologi ini bertindak sebagai antioksidan yang menetralisir polutan dalam air biasa, sehingga setiap tegukan dari tumbler mahasiswa bukan sekadar penghilang dahaga, melainkan investasi bagi daya tahan tubuh di tengah padatnya aktivitas akademik,” tambahnya secara komprehensif.
Bagi Undana, penjajakan kolaborasi ini menjadi bagian dari upaya institusi dalam memperkenalkan produk-produk inovatif yang relevan dengan gaya hidup modern yang praktis namun tetap mengutamakan aspek medis. Kampus dinilai sebagai pusat edukasi dan agen perubahan (agent of change) yang paling tepat untuk memberikan pemahaman berbasis sains mengenai manfaat air hidrogen kepada masyarakat luas.
Sub Koordinator Kerja Sama, Happy Yandri Haning, S.Si., menyatakan bahwa tahap awal kerja sama akan difokuskan pada kegiatan sosialisasi terpadu. Mahasiswa dan dosen nantinya akan diberikan pemahaman mendalam mengenai mekanisme kerja teknologi hidrogen serta dampaknya bagi kebugaran tubuh selama beraktivitas di lingkungan kampus.
“Kami akan mengkaji lebih lanjut teknis pelaksanaannya agar kegiatan edukasi ini benar-benar memberikan nilai tambah pengetahuan bagi sivitas akademika, terutama terkait standar baku mutu kesehatan air minum yang layak konsumsi,” pungkas Happy.
Melalui penjajakan ini, Undana mempertegas posisinya sebagai institusi yang adaptif terhadap teknologi terapan yang bermanfaat langsung bagi kualitas hidup manusia, sekaligus mempererat hubungan strategis antara dunia usaha dan dunia pendidikan. (Ade)





