[adsense_aicp_iklan1]

Undana Kukuhkan Tiga Guru Besar Dorong Percepatan Pembangunanan Di NTT

KETERANGAN FOTO/ HUMAS UNDANA - Universitas Nusa Cendana (Undana) mengukuhkan tiga guru besar baru dalam Sidang Senat Terbuka di Grha Cendana, Kupang, Rabu (8/4).
KETERANGAN FOTO/ HUMAS UNDANA - Universitas Nusa Cendana (Undana) mengukuhkan tiga guru besar baru dalam Sidang Senat Terbuka di Grha Cendana, Kupang, Rabu (8/4).

“AI mungkin unggul dalam mengolah data, namun guru besar memiliki esensi yang tidak dimiliki teknologi: hati nurani, emosi, dan kepekaan lokal. Guru besar adalah konstruktor manusia yang membantu mahasiswa merangkai data menjadi pemikiran kritis dan bermakna,” tegas Prof. Jefri.

KUPANG, MEDIASINTT.COM – Universitas Nusa Cendana (Undana) mengukuhkan tiga guru besar baru dalam Sidang Senat Terbuka di Grha Cendana, Kupang, Rabu (8/4)  sebagai benteng akademik  dalam mendukung percepatan pembangunan di Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Bacaan Lainnya
[adsense_aicp_iklan4]

Tiga profesor lintas  disiplin ilmu yang dikukuhkan terdiri dari Prof. Dr. Linda W. Fanggidae, S.T., M.T. (Guru Besar Bidang Arsitektur dan Perilaku), Prof. Dr. Drs. Wiliam Djani, M.Si. (Guru Besar Bidang Reformasi Kebijakan Pembangunan Kesehatan), dan Prof. Zakaria Seba Ngara, Ph.D. (Guru Besar Bidang Fisika Material).

Rektor Undana, Prof. Dr. Ir. Jefri S. Bale, S.T., M.Eng., memberikan sorotan tajam terhadap fenomena Artificial Intelligence (AI). Ia mengakui bahwa saat ini mahasiswa lebih nyaman “menyewa kecerdasan” AI daripada berdiskusi dengan dosen.

“AI mungkin unggul dalam mengolah data, namun guru besar memiliki esensi yang tidak dimiliki teknologi: hati nurani, emosi, dan kepekaan lokal. Guru besar adalah konstruktor manusia yang membantu mahasiswa merangkai data menjadi pemikiran kritis dan bermakna,” tegas Prof. Jefri.

Senada dengan hal tersebut, Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, S.Si., Apt., menyambut baik penguatan SDM di Undana.

Ia menegaskan bahwa kepakaran para profesor ini sangat dibutuhkan pemerintah dalam membenahi infrastruktur, kesehatan, hingga pengembangan energi baru di NTT.

Prosesi pengukuhan diwarnai dengan penyampaian orasi ilmiah yang mengangkat persoalan nyata di tengah masyarakat NTT.

Arsitektur Berbasis Perilaku: Prof. Linda W. Fanggidae membedah kegagalan desain modern yang mengabaikan aspek sosial. Ia membandingkan proyek perumahan Pruitt-Igoe di AS yang gagal secara sosial dengan fenomena “Kios Angalai” di NTT yang meski sederhana, namun berhasil menjadi ruang interaksi sosial yang kuat karena desainnya selaras dengan perilaku manusia.

Reformasi Kebijakan Stunting: Prof. Wiliam Djani menyoroti persoalan struktural dalam penanganan stunting di NTT. Menurutnya, masalah utama bukan sekadar kekurangan anggaran, melainkan minimnya koordinasi lintas lembaga. Ia mendorong pergeseran paradigma dari sekadar pelayanan publik menjadi pemberdayaan masyarakat di mana pemerintah berperan sebagai fasilitator.

Inovasi Nanodots Buah Naga: Di bidang sains, Prof. Zakaria Seba Ngara memperkenalkan karbon nanodots (K-dots) yang difabrikasi dari bahan organik lokal seperti kulit buah naga dan lengkuas. Inovasi ini terbukti efektif sebagai sumber nutrisi tanaman kacang-kacangan, sekaligus menjadi solusi atas krisis energi dan pangan.

Bagi Prof. Zakaria, pengukuhan ini memiliki makna emosional mendalam. Di tengah perjuangannya melawan masalah kesehatan, ia menyebut momen ini sebagai “mukjizat” yang memotivasi dirinya untuk terus mengembangkan teknologi bagi kemanusiaan.

Melalui pengukuhan ini, Undana menegaskan komitmennya bahwa pengembangan ilmu pengetahuan tidak boleh menyebabkan dehumanisasi, melainkan harus tetap berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan dan kebermanfaatan bagi masyarakat lokal.

Pengukuhan tiga guru besar ini menambah total guru besar Undana menjadi 79 orang, sebuah capaian yang disebut Rektor sebagai penguatan “Benteng Akademik” kampus. (ade)

[adsense_aicp_iklan3]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *