Satu Tahun Kepemimpinan Melki-Jhoni Diungkap Dalam Buku Asa Dan Rasa Bangun NTT

KETERANGAN FOTO/MEDIASINTT.COM/ADE - Beluncuran buku Asa dan Rasa: Refleksi Setahun Ayo Bangun NTT, yang menjadi potret awal perjalanan kepemimpinan Gubernur Melkiades Laka Lena bersama Wakil Gubernur Jhoni Asadoma, Kamis (9/4).
KETERANGAN FOTO/MEDIASINTT.COM/ADE - Beluncuran buku Asa dan Rasa: Refleksi Setahun Ayo Bangun NTT, yang menjadi potret awal perjalanan kepemimpinan Gubernur Melkiades Laka Lena bersama Wakil Gubernur Jhoni Asadoma, Kamis (9/4).

“Melalui buku ini bisa menjadi pemantik lahirnya berbagai gagasan dari masyarakat dalam mendukung pembangunan NTT,” kata Lery Rupidara.

KUPANG, MEDIASINTT.COM –  Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) terus melangkah dan berkomitmen agar transparansi dalam pelayanan  public terus dilakukan demi mempercepat geliat pembangunan di NTT.

Bacaan Lainnya

Hal itu terlihat saat dilakukan peluncuran buku Asa dan Rasa: Refleksi Setahun Ayo Bangun NTT, yang menjadi potret awal perjalanan kepemimpinan Gubernur Melkiades Laka Lena bersama Wakil Gubernur Jhoni Asadoma, Kamis (9/4).

Buku  yang ditulis dengan begitu apik  tidak sekadar menyajikan laporan capaian, tetapi juga membuka ruang evaluasi atas dinamika kebijakan, tantangan pembangunan, serta jarak antara harapan dan realitas yang dihadapi pemerintah dalam satu tahun pertama masa jabatan Meki-Jhoni memimpin provinsi berbasis kepulauan ini.

Dalam peluncuran buku yang dihadiri secara langsung Gubernur Melki Laka Lena, Ketua DPRD NTT Emi Nomleni, serta para pejabat lingkup pemerintah Provinsi NTT ini, pemerintah mengakui bahwa periode satu tahun belum cukup untuk menghasilkan perubahan yang signifikan. Namun, fase awal ini dinilai krusial sebagai momentum penentuan arah kebijakan dan penguatan komitmen pembangunan jangka panjang di NTT.

“Setahun memang belum cukup untuk mengubah segalanya, tetapi menjadi dasar penting untuk mempertegas arah dan konsistensi pembangunan ke depan,” menjadi salah satu penegasan dalam kegiatan tersebut.

Melalui buku ini, pemerintah berupaya menghadirkan praktik demokrasi yang lebih terbuka, dengan menyampaikan tidak hanya keberhasilan, tetapi juga berbagai keterbatasan dan persoalan yang masih dihadapi. Pendekatan ini dinilai sebagai upaya membangun kepercayaan publik melalui transparansi yang lebih jujur dan akuntabel.

Tim penyusun buku menilai, narasi dalam Asa dan Rasa menggambarkan secara utuh dinamika pemerintahan yang berada di antara idealisme kebijakan dan realitas lapangan. Ketegangan antara “asa” dan “rasa” diposisikan sebagai proses yang wajar dalam perjalanan menuju perubahan yang berkelanjutan.

Selain menjadi instrumen refleksi, buku ini juga diharapkan membuka ruang dialog antara pemerintah dan masyarakat. Publik didorong untuk menilai, mengkritisi, sekaligus memberikan masukan terhadap arah pembangunan yang sedang dijalankan.

Di sisi lain, peluncuran buku ini turut mengusung agenda yang lebih luas, yakni penguatan budaya literasi di NTT.

Pemerintah menilai tradisi membaca dan menulis merupakan fondasi penting dalam menciptakan masyarakat yang kritis, partisipatif, dan berdaya saing.

Dalam kesempatan tersebut, turut disampaikan kutipan pemikiran Benjamin Franklin, “the shortest pencil is longer than the longest memory”, yang menekankan pentingnya pencatatan dan dokumentasi sebagai bagian dari proses pembangunan peradaban.

Pelaksana tugas Kepala Biro Administrasi Pimpinan Setda Provinsi NTT, Lery Rupidara, menyampaikan bahwa keterlibatan berbagai pihak dalam penyusunan buku menjadi cerminan kolaborasi yang penting dalam memperkuat kualitas kebijakan publik.

Ia berharap semangat refleksi yang dituangkan dalam buku ini dapat memicu lahirnya lebih banyak karya tulis dari masyarakat NTT, sekaligus memperluas ruang diskusi publik yang konstruktif.

“Melalui buku ini bisa menjadi pemantik lahirnya berbagai gagasan dari masyarakat dalam mendukung pembangunan NTT,” kata Lery Rupidara.

Melalui Asa dan Rasa, Pemerintah Provinsi NTT ingin menegaskan bahwa pembangunan tidak hanya diukur dari capaian fisik, tetapi juga dari kemampuan untuk merefleksikan kebijakan, menerima kritik, dan terus memperbaiki arah pembangunan secara berkelanjutan. (ade)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *