“Pembangunan kebudayaan harus dimulai dari daerah. Karena itu, silaturahmi dan presentasi ini menjadi penting, sebab proposal tertulis saja tidak cukup. Kemajuan budaya daerah akan sangat menentukan arah kebudayaan nasional,” kata Yusuf Susilo Hartono.
JAKARTA, MEDIASINTT.COM- Bupati Manggarai Heribertus Laju Nabit menjadi satu-satunya kepala daerah dari Provinsi Nusa Tenggara Timur yang masuk sebagai kandidat penerima Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2026.
Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat menggelar Silaturahmi dan Presentasi Anugerah Kebudayaan bagi wartawan bersama komunitas, serta para bupati dan wali kota di Hall Dewan Pers, Jakarta, Kamis (8/1/2026).
Kegiatan ini menjadi tahapan penting menjelang penyerahan Trofi Abyakta pada puncak peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 di Banten, 9 Februari 2026 yang akan diserahkan Presiden Prabowo Subianto.
Acara diawali dengan acara Tuak Kepok dari adat Manggarai Provinsi NTT sebagai ucapan selamat datang kepada 10 bupati/wali kota se Indonesia yang masuk nominasi penerima tropi kebudayaan serta wartawan komunitas.
Tuak kepok diterima Direktur Anugerah Seni dan Kebudayaan PWI Pusat, Jusuf Sosilo Hartono.
Selanjutnya dilakukan perarakan para bupati/wali kota diiringi tarian “Ronda” yng juga berasal dari Kabupaten Manggarai Nusa Tenggara Timur (NTT).
Di depan penari ronda, terdapat beberapa penari Caci yang sudah mengenakan pakaian adat lengkap untuk diperagakan saat pembukaan.
Setelah tiba di Hall Dewan Pers, para penari caci langsung beraksi yang diawali dengan pukulan pembuka oleh Bupati Manggarai, Heribertus Geradus Laju Nabit. Usai pegelaran caci dilanjutkan dengan rangkaian acara lainnya yang diawali menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.
Para kandidat tersebut terdiri dari tiga wali kota dan tujuh bupati, yaitu:
– Wali Kota Malang, Jawa Timur, Wahyu Hidayat
– Wali Kota Samarinda, Kalimantan Timur, Andi Harun
– Wali Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, Mohan Roliskana
– Bupati Lampung Utara, Lampung, Hamartoni Ahadis
– Bupati Temanggung, Jawa Tengah, Agus Setiawan
– Bupati Manggarai, Nusa Tenggara Timur, Heribertus Geradus Laju Nabit
– Bupati Blora, Jawa Tengah, Arief Rohman
– Bupati Labuhanbatu, Sumatera Utara, Maya Hasmita
– Bupati Manokwari, Papua Barat, Hermus Indou
– Bupati Padang Pariaman, Sumatera Barat, John Kenedy Azis.
Direktur Anugerah Seni dan Kebudayaan PWI Pusat, Yusuf Susilo Hartono, menyampaikan bahwa pers memiliki peran strategis tidak hanya dalam mengawal isu politik dan ekonomi, tetapi juga dalam menjaga keberlanjutan kebudayaan nasional.
“Pembangunan kebudayaan harus dimulai dari daerah. Karena itu, silaturahmi dan presentasi ini menjadi penting, sebab proposal tertulis saja tidak cukup. Kemajuan budaya daerah akan sangat menentukan arah kebudayaan nasional,” ujarnya.
Ketua Umum PWI Pusat, Akhmad Munir, melalui sambutan yang disampaikan Ketua Dewan Kehormatan PWI Pusat, Atal S. Depari, menegaskan bahwa Anugerah Seni dan Kebudayaan PWI memiliki makna yang lebih dalam dari sekadar seremoni.
“Anugerah ini merupakan pengakuan moral dan historis atas peran kebudayaan sebagai jiwa bangsa, sekaligus bentuk apresiasi kepada para insan budaya yang konsisten menjaga identitas Indonesia di tengah arus perubahan zaman,” kata Atal.
Menurutnya, kekuatan utama Indonesia tidak hanya terletak pada aspek ekonomi, geopolitik, atau demografi, tetapi justru pada kekayaan budayanya yang telah diakui dunia, termasuk oleh UNESCO.
“Dengan ribuan bahasa dan ragam tradisi, pembangunan yang berlandaskan kebudayaan adalah sebuah keharusan. Tanpa kebudayaan, pembangunan akan kehilangan arah, makna, dan identitas,” tambahnya.
Dalam konteks tersebut, pers dinilai memiliki peran penting sebagai penjaga ingatan kolektif, ruang dialog kebudayaan, serta penghubung antara tradisi dan modernitas. Pers yang sehat adalah pers yang memberi ruang bagi kebudayaan untuk tumbuh, dikenal, dan dihargai publik.
Wakil Ketua Dewan Pers, Totok Suryanto, menilai wartawan memiliki kedekatan yang kuat dengan kebudayaan melalui tugas pencatatan sejarah, tradisi, dan dinamika sosial masyarakat.
“Wartawan mencatat sejarah dan budaya. Dari catatan itulah nilai-nilai budaya dapat terus hidup. Ke depan, para pemimpin daerah diharapkan mampu mencatatkan dirinya sebagai pelindung dan penyelamat budaya yang kini mulai tergerus,” ujarnya.
Totok menambahkan, keberhasilan seorang wali kota, bupati, atau gubernur salah satunya dapat diukur dari komitmennya dalam melindungi dan melestarikan kebudayaan daerah selama masa kepemimpinannya.
“Jika suatu daerah didominasi budaya asing, mulai dari makanan hingga pola interaksi sosial, maka budaya lokal bisa hilang dan hanya tersisa kenangan. Di sinilah pers harus hadir sebagai penjaga, pejuang, sekaligus tonggak kebudayaan bangsa,” tegasnya.

Usai kegiatan silaturahmi, sebanyak 10 kepala daerah mengikuti presentasi Anugerah Seni dan Kebudayaan di PWI Pusat pada Jumat (9/1/2026).
Kegiatan presentasi dilakukan di depan dewan juri yang terdiri dari Sujewo Tejo (seniman, budayawan, mantan wartawan, anggota yim.pakar PWI Pusat) Dr. Nungki Kusumastuti (dosen IKJ, penari dan artis film), Agus Dermawan T (pengamat dan penulis seni budaya, penerima anugerah kebudayaan RI), Yusuf Susilo Hartono (wartawn senior, pelukis dan penyair). (*/Beny)




